silahkan singgah... semoga nyaman...

Counters

Tuesday, February 24, 2009

Bertemu Sang Maestro Puisi Cinta

Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bisa berhadapan langsung dengan sang maestro puisi cinta, Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono. Meski tidak semua karyanya bertema cinta, namun beliau tidak keberatan bila dikategorikan sebagai pujangga cinta.

Berkat puisi-puisi cintanya yang dibuat lirik dan dilagukan oleh Ari Reda untuk theme song film Cinta Sepotong Roti, karya Sapardi (SDD) mulai dikenal dan diterima masyarakat.

Dulu saya sering bertanya-tanya seperti apa sosok SDD yang sajak-sajak cintanya sukses menggetarkan hati pembaca maupun pendengarnya ini. Ternyata setelah bertemu, saya hanya melihat sesosok kakek berusia 60 tahunan yang sederhana. Namun jenius.

'Aku Ingin' dan 'Hujan Bulan Juni' merupakan dua sajak favorit saya yang sudah lekat di otak sejak lama. Pada dasarnya saya menyukai puisi bertema cinta, terutama cinta yang dalam tak terkatakan, seperti kedua puisi SDD tersebut.

Menurut saya, keduanya bertaburan diksi yang sederhana namun dashyat makna. Menggambarkan cinta yang begitu dalam nan agung, melankolis namun tidak cengeng. Dan menurut saya SDD berhasil menterjemahkan perasaan seperti itu dengan sangat tepat lewat karyanya.

Saya bilang tepat karena saya pernah merasakan bahwa puisi tersebut sedang menggambarkan perasaan saya. Hehe^^..




Saya memang bukan pengagum berat karya SDD. Saya hanya tahu dan kagumi beberapa karyanya. Saya bahkan belum pernah dengar puisinya yang dilagukan. Saya juga tidak mempunyai kumpulan sajak-sajak beliau seperti salah satu peserta obrolan sore itu.

Lelaki itu (saya lupa namanya) tampaknya sengaja membawa buku-buku karya SDD. Mungkin mulai dari yang berjudul DukaMu Abadi (1969) sampai Ayat-ayat Api (2000). Pada akhir acara yang digelar sembariminumkopi dan menghadirkan SDD sore itu, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan tanda tangan asli pengarangnya di buku-buku tersebut. Alhasil ketika acara selesai berganti sesi tanda tangan, banyak yang agak protes padanya karena dia meminta tanda tangan paling banyak.

Dan itu cukup membuat saya iri. Sebab saya tidak punya satupun buku beliau yang bisa saya mintakan tanda tangan. Namun sebagai gantinya, saya mendapatkan foto bersama beliau walau hasilnya agak buram (maaf, tidak saya tampilkan disini). Hehe^^

Pada obrolan sore itu, di Momento, Jogja, saya sempat minder sebenarnya. Ada perasaan saya tidak seharusnya ada disana. Selain pesertanya adalah pengagum berat karya SDD, kebanyakan juga mahasiswa jurusan sastra atau seni. Sementara saya tidak punya latar belakang akademis yang berhubungan dengan sastra, nyerempet pun tidak. Saya hanya menggemari hobi menulis saya dan sedang belajar melalui banyak hal, termasuk ngeblog ini.

Tapi kemudian buru-buru saya hapus perasaan itu. Namanya juga baru belajar, pikir saya. Jadi wajar jika saya menjadi semakin tahu bahwa saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Perasaan itu tidak enak sebenarnya, tapi saya ambil positifnya saja. Saya mendapatkan ilmu dan pengalaman lebih dari sebelumnya. Itu sudah cukup. Selain itu, bertemu dengan sastrawan ternama sekelas SDD sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya.

Satu lagi cerita berharga telah mewarnai kanvas hidup saya dengan warna yang lebih terang dan tegas. Semoga semakin memperjelas gambaran mimpi-mimpi yang telah saya sketsa dalam benak sejak lama.

2 comments:

Seti@wan Dirg@ntara said...

Seneng yah bisa berhadapan langsung ama sang Maestro??

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Aku pengagum berat SDD,...