sambil menunggang kuda putih penuh pesona,
maka cerita itu akan berakhir Happy Ending.
THE (happiness) END(s)
oleh pria yang bersedia melakukan apa saja demi
tak harus setampan, sekaya atau sesempurna sang pangeran.
so THE (happiness) BEGIN(s)...
Once Upon a Simple Life
diamlah
hiburmu tak membantu
justru tajamkan sadarku
akan sakit dan sesal mencintaimu
sungguh diamlah
takkan lenyap lara di kalbu
meski kau rangkai kata-kata manis itu
dekap saja raga ini sejenak di bahumu
hingga luruh segenap air mataku nan pilu
inginku, cukup kau ingat adaku
juga kisah kita yang terlalu biru
maka diamlah
sebab dalam diam, aku akan berlalu
demi bahagiamu
Seharusnya kita dipertemukan dalam skenario yang berbeda, dimana kau lebih dulu menemukanku (daripada dia) dan memilihku. Sebab rasanya sakit saling tahu perasaan masing-masing namun terpaksa harus saling melepaskan.
Aku lupa kapan tepatnya rasa itu datang, tapi aku tak mungkin lupa bagaimana rasanya ketika ia datang. Aku tahu kau pun tahu, sebab kau pun merasakan.
Jadi jangan salahkan rasa, bukan inginnya datang disaat tak tepat.. Salahkan saja dirimu yang terlambat temukanku.
Sebelum baca posting ini, ada baiknya baca dulu 1 jam prambanan ekspress biar jalan ceritanya nyambung.
OK. Sampai mana ya kemarin? Sambil mengingat-ingat kembali suasana di Prameks waktu itu, saya mau cerita sedikit untuk prolog.
Saya suka jalan-jalan, terutama ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, atau pernah namun jarang saya kunjungi. Baik untuk tujuan tertentu, atau sekedar untuk refreshing saja. Dulu, bapak saya adalah seorang 'petualang'. Berkat pekerjaannya juga, beliau sempat menjelajahi beberapa negara. Mungkin dari situlah menurun jiwa 'petualang' pada diri saya. Minimal saya punya keberanian untuk bepergian sendiri. Tentu dengan persiapan yang matang, tidak asal pergi. Dan yang terpenting seijin orang tua. Walau kadang suka sengaja, pamitnya belakangan setelah sampai tujuan atau setelah pulang. Hehe^^.
Kembali ke perjalanan saya dengan Prameks kemarin.
Selanjutnya, ke bagian kanan saya persis. Duduk anak muda yang autis dengan HP nya. Entah sibuk sms lah, mendengarkan musik lah, atau sekedar main-main. Seolah-olah ia hanya hidup dengan HP-nya saja di dalam kereta itu. Penampilannya mahasiswa. Hampir seumuran dengan gadis berjilbab di depan saya.
Lalu duduk di sebelah kiri saya, bahkan hampir mempet saya, dan yang paling menyita perhatian saya selama perjalanan, adalah seorang bapak dengan anak perempuan berumur 10 tahunan dipangkuannya.
Bapak itu berusia sekitar hampir 40 tahun. Beberapa uban sedikit terlihat mengintip dari bawah topinya. Barangkali itulah salah satu tujuan orang mengenakan topi, untuk menutupi tanda-tanda usia. Si anak lucu sekali, rambutnya agak ikal dan dikuncir dua. Tampak cantik dan centil dengan kaos terusan berwarna pink. Yang setiap melihat tingkah bapak-anak itu sepanjang perjalanan mengingatkan saya akan sesuatu.
Saya sempat ngobrol dengan mereka. Mereka juga tinggal di Solo. Tujuan mereka ke Jogja, ketika saya tanya si bapak, adalah mengajak anaknya jalan-jalan ke Malioboro sekaligus memberi pengalaman pertama anaknya naik kereta (seperti saya dulu).
Mereka terlihat sangat dekat dan akrab satu sama lain. Beda dengan keluarga (tidak bahagia) di depan saya. Bapak satu ini lebih terlihat sangat menyayangi anak perempuannya, begitu juga sebaliknya.
Si anak banyak bicara, banyak bertanya, dan si bapak dengan lembut menjawab pertanyaan anaknya. Saya kerapkali melihat bapak itu mencium kening atau rambut anaknya. Si anak juga terlihat sangat manja menggelayut pada bapaknya. Berkali-kali memeluk bapaknya seakan hanya bapaknyalah satu-satunya yang dia punya dan sayang di dunia.
Anak itu manis sekali, ia memanggil bapaknya dengan sebutan 'papi'. Ketika troli jualan lewat, papinya menawari mau beli minuman apa tidak. Si anak terlihat senang, lalu mengambil salah satu minuman kotak. Setelah itu papinya mengambil uang dari dompet lalu mengangsurkannya pada pedagang itu. Si anak tiba-tiba berkata, 'makasih ya, Pi udah dibeliin'. Saya terkesiap mendengarnya.
Dalam hati ada semacam perasaan aneh yang membuat saya larut didalamnya. Membawa saya kembali tentang sesuatu di masa lalu. Sesuatu itu awalnya terasa meneduhkan ketika mengingatnya, kemudian perlahan terasa menyesakkan dada. Semacam perasaan iri sebenarnya. Bukan iri karena dulu saya tidak sedekat itu dengan bapak saya. Alhamdulillah hubungan saya dan bapak juga baik-baik saja. Melainkan saya iri akan sesuatu yang lain melihat hubungan bapak-anak ini. Sesuatu yang berhubungan dengan 'dia'.
Lagi-lagi dia... Selalu saja berenang-renang dalam otak saya dimanapun saya berada. Seolah semua hal yang saya lihat, dengar dan rasakan telah bersekongkol dengan dia. Selalu memaksa saya untuk tidak melupakannya.
Perasaan yang berkecamuk dalam diri saya tersebut buyar ketika kereta melambat. Tanda saya telah tiba di stasiun Lempuyangan. Maka saya berpamitan dengan keduanya. Dan sedikit berharap ketika pulang bisa bertemu dengan mereka lagi.
Sayangnya saat pulang petang itu, saya tidak bertemu mereka. Malahan saya hampir ketinggalan kereta. Sialnya lagi, saya terpaksa duduk di bawah karena tidak kebagian tempat. Untungnya saya bukan satu-satunya yang duduk di bawah. Tidak terlalu buruk sih, karena saya mencoba menikmatinya supaya nyaman. Tapi tetap saja menyebalkan ketika harus bergeser setiap kali troli jualan lewat.
Sebenarnya itu adalah kali kedua saya naik Prameks tidak dapat tempat duduk.
Tips dari saya bila naik kereta, jangan lupa bawa koran. Siapa tahu tidak dapat tempat, jadi bisa buat alas duduk di bawah.
Selain itu, jangan lupa buang air dulu sebelum naik kereta, karena toilet di kereta amat sangat tidak higienis.
Bahkan kereta eksekutif sekalipun. Dulu pernah waktu ke Jakarta saya sampai harus nahan pipis selama hampir 7 jam setelah tahu toiletnya kurang bersih (mana nahannya sambil kedinginan AC lagi^^).
Posted by Meilisa Andri at 8:35 AM 0 comments
Labels: curhat, dia, jalan-jalan, kata, potret
Cintamukah itu yang berkata
Untukku habis sudah
Tiada sisa
Jadi lupakan saja
Bukan cinta
Untukmu tiada surut setetespun
Hanya saja kau tak perlu tau
Diam-diam pun masih kusimpan
Keping kenangan indah kita
Lalu kenapa lupakan saja
Menderai butiran airmata
Bukankah kita telah saling tau
Telah saling menerima
Lalu telah saling cinta
Lupakan saja lebih baik
Kau adalah ombak berkejaran
Jangan khianati laut yang setia
Demi memeluk pantai yang rindu
Pulanglah
Kutau kau telah lelah
Suatu hari pada bulan Ramadhan (tahun lalu), saya bertanya pada sang kekasih yang tengah asik menyantap buah Arab alias kurma.
"Manisan mana kurma sama aku?", tanya saya mencari perhatian.
"Hahahaha...", ia menertawai entah saya atau pertanyaan saya. "Memangnya kamu mau dibandingin sama kurma? Kalau mau, baru aku bisa milih"
Saya cemberut. Sebel sekaligus ingin menggodanya. Saya tahu dia paling tidak tega melihat saya cemberut. Sampai akhirnya dia berkata,
"Ya tergantung tempat"
Maksudnya??
"Kalau di lidah manisan kurma, tapi kalau di mata manisan kamu", jawabnya dengan tersenyum. Lagi-lagi dia membuat saya tersenyum.
Pria itu...saya tahu benar dia tak pandai dalam hal merayu. Karena dia tak perlu berkata banyak untuk meyakinkan saya tentang sesuatu, termasuk perasaannya.
Pria yang sangat manis itu selalu bisa membuat saya tersenyum. Bahkan saat dia tak lagi di sisi saya, masih bisa saya tersenyum hanya dengan memikirkannya saja.
*him refers to my secret love
Seperti itulah kira-kira pertanyaan yang saya dapat dari para sahabat setelah mendengar kisah ini. Memang hanya pada merekalah saya berani bercerita. Bagaimanapun saya tidak kuat memendamnya sendiri. Saya percaya bahwa tidak satu manusia pun di dunia ini yang merasa nyaman mengubur sesuatu dalam hatinya. Mungkin ada yang bisa melakukannya, namun itu akan terasa menyiksa dan mengganjal.
Pertanyaan itu juga yang terus menggelayut di benak saya hampir setahun ini. Tepatnya sejak saya merasakan perasaan aneh yang begitu indah dan tak terhingga, yaitu ketika lahir dan batin saya dikuasai oleh kekuatan ajaib bernama cinta. Sungguh kekuatan yang amat magis, sulit diterjemahkan dan semakin lama semakin mencengkeram jiwa dan raga. Yang membuat saya begitu keras kepala untuk tidak berpaling pada orang lain untuk saya cinta dan membuat saya lupa diri hanya demi tidak kehilangannya. Bahkan ketika realita di depan saya menyuguhkan kenyataan bahwa mencintainya tidak memberi apa-apa selain luka dan pada akhirnya dosa.
Entah kenapa ada sederet keraguan setiap saya berusaha membunuh hasrat mencinta terhadapnya. Memang benar kata orang bahwa cinta itu buta. Cinta tidak dapat melihat apalagi memilih. Cinta datang begitu saja tanpa memandang perbedaan yang besar sekalipun.
Barangkali pemikiran itulah yang, tanpa saya sadari, membuat saya membiarkan pertanyaan itu tak pernah terjawab sampai sekarang. Saya tak pernah memberikan ruang untuk logika menjawabnya. Padahal seringkali logika tidak sepaham dengan cinta. Saya justru lebih sibuk bertanya-tanya apakah dia juga mencintai saya. Selalu saja saya menerka-nerka perhatian dan sayang yang dia berikan selama ini adalah bentuk sebuah cinta yang nyata. Sementara saya tahu betul dia tak berhak lagi mencinta. Saya membenarkan takdir mempertemukan saya dengannya, namun saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya tidak ditakdirkan untuk melebur cinta dengannya. Saat itu.
Kembali tentang pertanyaan ‘kenapa saya harus mencintainya’, saya rasa pertanyaan itu seharusnya tidak pernah saya pertanyakan. Karena pertanyaan itu justru akan terus melahirkan keinginan saya untuk mencari tahu lebih tentangnya. Yang ujungnya hanya akan membuat saya semakin mencintainya.
Kini saya sedang berusaha membangun dinding terhadapnya, entah sudah benar atau belum saya menyusunnya. Bukan hanya untuk melindungi saya dari godaan untuk mencintainya, lagi, namun untuk melindunginya juga dari segala tentang saya (lelaki mana yang bisa menolak seorang saya. Hehe^^) yang kadang terlampau ekspresif menyatakan cinta.
Cinta itu ternyata ibarat rumput liar. Yang ketika ia menemukan tanah yang subur untuk berkembang, ia akan tumbuh dan berkembang biak dengan pesat. Apalagi jika si pemilik tanah tersebut merawatnya baik-baik, memberinya pupuk dan air yang cukup. Lama-lama semakin kuat akarnya menghujam tanah hingga sulit untuk dicabut.
Begitu juga cara kerja cinta. Cinta yang terlanjur mengakar akan sulit untuk dihapus meski kenyataan tak berhenti mendesaknya untuk mengubur rasa itu. Seperti cintaku terhadapnya.
Cinta memang buta. Tapi saya tidak buta dan tidak boleh membutakan diri untuk melihat realita. Bagaimanapun juga, cinta terhadapnya memberikan saya lebih dari sekedar kesenangan dan perasaan yang membahagiakan. Melainkan juga semangat dan pengalaman yang amat berharga. Dan segala tentangnya akan selalu ter-frame dalam memori saya sebagai bagian dari petualangan cinta yang indah.
Memilih untuk melepasnya adalah hal paling menyedihkan sekaligus paling benar saya lakukan. Saya yakin kebahagian dan kesedihan datang silih berganti, tidak mungkin bersamaan. Maka saya pun percaya, bahwa suatu saat kesedihan ini akan tergantikan dengan kebahagiaan baru yang mungkin sedang menunggu untuk dilalui. Yang akan datang menjemput ketika semua telah usai saya tangisi.
apa yang bisa dikata
bila kata tak mampu lagi mengubah fakta
bila kata tak sanggup lagi menahan realita
bila kata tak mungkin lagi mendatangkan dia
Posted by Meilisa Andri at 1:55 PM 0 comments
#1 dari homyworld
Terimakasih award perdananya. Good Luck!
#2 dari mas WillisKoes
Thanks for loving my blog, I love yours too. Masih bingung mau dikasih siapa nih.. soalnya belum banyak kawannya. hehe

#3 dari mas WillisKoes
Thanks dikasih award lagi, jadi tersanjung. hehe
#4 dari mbak Loly (bundoshop)
Makasih banyak awardnya...seneng deh dapat award lagi
#5 dari andra