silahkan singgah... semoga nyaman...

Counters

Sunday, March 1, 2009

ANTARA SOLO-JOGJA (prameks bagian-2)

Sebelum baca posting ini, ada baiknya baca dulu 1 jam prambanan ekspress biar jalan ceritanya nyambung.

OK. Sampai mana ya kemarin? Sambil mengingat-ingat kembali suasana di Prameks waktu itu, saya mau cerita sedikit untuk prolog.

Saya suka jalan-jalan, terutama ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, atau pernah namun jarang saya kunjungi. Baik untuk tujuan tertentu, atau sekedar untuk refreshing saja. Dulu, bapak saya adalah seorang 'petualang'. Berkat pekerjaannya juga, beliau sempat menjelajahi beberapa negara. Mungkin dari situlah menurun jiwa 'petualang' pada diri saya. Minimal saya punya keberanian untuk bepergian sendiri. Tentu dengan persiapan yang matang, tidak asal pergi. Dan yang terpenting seijin orang tua. Walau kadang suka sengaja, pamitnya belakangan setelah sampai tujuan atau setelah pulang. Hehe^^.

Kembali ke perjalanan saya dengan Prameks kemarin.

Selanjutnya, ke bagian kanan saya persis. Duduk anak muda yang autis dengan HP nya. Entah sibuk sms lah, mendengarkan musik lah, atau sekedar main-main. Seolah-olah ia hanya hidup dengan HP-nya saja di dalam kereta itu. Penampilannya mahasiswa. Hampir seumuran dengan gadis berjilbab di depan saya.

Lalu duduk di sebelah kiri saya, bahkan hampir mempet saya, dan yang paling menyita perhatian saya selama perjalanan, adalah seorang bapak dengan anak perempuan berumur 10 tahunan dipangkuannya.

Bapak itu berusia sekitar hampir 40 tahun. Beberapa uban sedikit terlihat mengintip dari bawah topinya. Barangkali itulah salah satu tujuan orang mengenakan topi, untuk menutupi tanda-tanda usia. Si anak lucu sekali, rambutnya agak ikal dan dikuncir dua. Tampak cantik dan centil dengan kaos terusan berwarna pink. Yang setiap melihat tingkah bapak-anak itu sepanjang perjalanan mengingatkan saya akan sesuatu.

Saya sempat ngobrol dengan mereka. Mereka juga tinggal di Solo. Tujuan mereka ke Jogja, ketika saya tanya si bapak, adalah mengajak anaknya jalan-jalan ke Malioboro sekaligus memberi pengalaman pertama anaknya naik kereta (seperti saya dulu).

Mereka terlihat sangat dekat dan akrab satu sama lain. Beda dengan keluarga (tidak bahagia) di depan saya. Bapak satu ini lebih terlihat sangat menyayangi anak perempuannya, begitu juga sebaliknya.

Si anak banyak bicara, banyak bertanya, dan si bapak dengan lembut menjawab pertanyaan anaknya. Saya kerapkali melihat bapak itu mencium kening atau rambut anaknya. Si anak juga terlihat sangat manja menggelayut pada bapaknya. Berkali-kali memeluk bapaknya seakan hanya bapaknyalah satu-satunya yang dia punya dan sayang di dunia.

Anak itu manis sekali, ia memanggil bapaknya dengan sebutan 'papi'. Ketika troli jualan lewat, papinya menawari mau beli minuman apa tidak. Si anak terlihat senang, lalu mengambil salah satu minuman kotak. Setelah itu papinya mengambil uang dari dompet lalu mengangsurkannya pada pedagang itu. Si anak tiba-tiba berkata, 'makasih ya, Pi udah dibeliin'. Saya terkesiap mendengarnya.

Dalam hati ada semacam perasaan aneh yang membuat saya larut didalamnya. Membawa saya kembali tentang sesuatu di masa lalu. Sesuatu itu awalnya terasa meneduhkan ketika mengingatnya, kemudian perlahan terasa menyesakkan dada. Semacam perasaan iri sebenarnya. Bukan iri karena dulu saya tidak sedekat itu dengan bapak saya. Alhamdulillah hubungan saya dan bapak juga baik-baik saja. Melainkan saya iri akan sesuatu yang lain melihat hubungan bapak-anak ini. Sesuatu yang berhubungan dengan 'dia'.

Lagi-lagi dia... Selalu saja berenang-renang dalam otak saya dimanapun saya berada. Seolah semua hal yang saya lihat, dengar dan rasakan telah bersekongkol dengan dia. Selalu memaksa saya untuk tidak melupakannya.

Perasaan yang berkecamuk dalam diri saya tersebut buyar ketika kereta melambat. Tanda saya telah tiba di stasiun Lempuyangan. Maka saya berpamitan dengan keduanya. Dan sedikit berharap ketika pulang bisa bertemu dengan mereka lagi.

Sayangnya saat pulang petang itu, saya tidak bertemu mereka. Malahan saya hampir ketinggalan kereta. Sialnya lagi, saya terpaksa duduk di bawah karena tidak kebagian tempat. Untungnya saya bukan satu-satunya yang duduk di bawah. Tidak terlalu buruk sih, karena saya mencoba menikmatinya supaya nyaman. Tapi tetap saja menyebalkan ketika harus bergeser setiap kali troli jualan lewat.

Sebenarnya itu adalah kali kedua saya naik Prameks tidak dapat tempat duduk.


Tips dari saya bila naik kereta, jangan lupa bawa koran. Siapa tahu tidak dapat tempat, jadi bisa buat alas duduk di bawah.

Selain itu, jangan lupa buang air dulu sebelum naik kereta, karena toilet di kereta amat sangat tidak higienis.
Bahkan kereta eksekutif sekalipun. Dulu pernah waktu ke Jakarta saya sampai harus nahan pipis selama hampir 7 jam setelah tahu toiletnya kurang bersih (mana nahannya sambil kedinginan AC lagi^^).